Sastra Pesisir Kajian Struktur Bahasa dan Nilai Budaya dalam Pantun Pernikahan Masyarakat Melayu Sambas

Sultan Sultan

Abstract


Di Indonesia, tradisi berpantun terdapat di beberapa daerah, satu di antara daerah yang konsisten melestarikan budaya berpantun adalah daerah Sambas. Sambas merupakan salah satu Kabupaten yang berada di bawah naungan administrasi wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Seacara geografis, Sambas berada di deretan pesisir pantura, dan dari sudut historis kabupaten Sambas menjadi sentral penyebaran dan perluasan agama Islam di Kalimantan Barat. Pantun berfungsi sebagai alat pemelihara bahasa dan sebagai media mengasah pikiran menjadi lebih kreatif, karena untuk ber- pantun dibutuhkan kemampuan berpikir asosiatif secara spontanitas melalui permainan kata-kata sebagai media penyampai pesan. Budaya berpantun bagi masyarakat Melayu Sambas masih dilestarikan dengan baik, pelestarian berpantun dilaksankan salah satunya dalam acara pernikahan. Setiap acara pernikahan menjadi keharusan dihadirkan acara berbalas pantun antara kedua belah pihak, yakni dari pihak mempelai perempuan dan pihak mempelai laki-laki. Dikarenakan pernikahan merupakan unsur sakral dalam kehidupan manusia yang bernilai budaya, maka nilai-nilai yang ter- kandug dalam ungkapan pantun tersebut menggambarkan nilai budaya sosial dalam kehidupan. Adapun masalah yang dibahas dalam artikel ini adalah Bagaimanakah struktur bahasa pantun pernikahan masyarakat Melayu Sambas sebagai sastra Pesisir? Apakah nilai budaya yang terdapat dalam pantun pernikahan masyarakat Melayu Sambas? Bagaimana persepsi masyarakat Melayu Sambas tentang panggunaan pantun dalam upacara budaya pernikahan? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan satra. Dari pembahasan pada ar- tikel ini dapat disimpulkan bahwa Pantun yang dibaca saat prosesi cara pernikahan itu terbagi men- jadi 8 jenis, pertama, pantun pem buka, kedua pantun untuk melamar, ketiga, pantun serah terima pengantin, keempat pantun untuk mempelai laki-laki, kelima, pantun untuk mempelai perempuan, keenam, pantun untuk orangtua pengantin laki-laki, ketujuh pantun untuk orangtua pengantin per- empuan, dan yang kedelapan adalah pantun untuk para tamu undangan. Adapun struktur pantun dalam pernikahan ini terdiri dari dua struktur, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisi- knya terdiri dari, diksi, imaji, kata konkret, bahasa figuratif, rima dan ritme. Sedangkan struktur batin terdiri dari, tema, nada dan suasana, perasaan dan amanat.Nilai-nilai yang terkandung dalam pantun pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas adalah, pertama nilai persatuan dan saling menghormati, kedua, nilai budaya optimis dan disiplin, ketiga nilai sopan santun dan ketun- dukan, keempat nilai menjaga tutur kata. Ada beberapa perspsi masyarakat Melayu Sambas tentang penggunaan pantun dalam acara pernikahan, pertama menurunnya minat dan antusias generasi muda untuk berpantun, kedua pantun mejnadi media penghibur, tidak lagi sebagai medium untuk penyampaian pesan-pesan moral seperti zaman-zaman terdahulu. Ketiga, pantun juga berperan se- bagai pelestari budaya.

 


Keywords


Sastra, struktur, nilai budaya, dan pantun

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.32682/sastranesia.v5i4.761

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 SASTRANESIA (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia  STKIP PGRI Jombang

Jl. Pattimura III/20, Jombang, Jawa Timur, Indonesia

Saat ini, Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia is telah diindeks oleh:

  
     
     
     
     
     
Dedicated to:


Flag Counter

 

View My Stats

Website Resmi STKIP PGRI Jombang http://stkipjb.ac.id/